Tuesday, 9 October 2012

Titip Absen

Gak di sini gak di sana, gak dulu gak sekarang, mengabsenkan dan titip absen adalah budaya yg mewarnai kehidupan mahasiswa. 

Sebenarnya, ga ada yang dirugikan dalam budaya ini. Mahasiswa yang ngabesin jelas ga rugi apa2. Mahasiswa yang diabsenin jelas bakal untung: jatah ga-masuk-nya ga berkurang, cuy. Dosen, pastinya ga bakal rugi jg. Mau yang masuk sekampung kek, mau yang masuk sebiji kek,, asal kuliah tetep ada sesuai jadwal, masi digaji kok.

Tapi, apakah sesuatu yang membudaya kemudian bisa menjadi suatu kebenaran? Tergantung budayanya se ya, tapi yang jelas belum tentu. Dan dalam kasus ngabsenin dan titip absen, jelas bukan kebenaran lah ya.

Lebih lanjut lagi, suatu hal yang sering dilakukan itu akan jadi kebiasaan. Karena kebohongan itu akan melahirkan kebohongan-kebohongan lain, brarti kan mendorong pembohong untuk menjadi sering berbohong. Nah, takutnya, keseringan ini akan berubah menjadi kebiasaan dan kebiasaan ini akan jadi pembenaran terhadap kegiatan berbohong itu sendiri. *mbulett..

Saya tentunya ga mau lah berbohong kalo nggak kepepet :P. Dan pastinya, saya gak mau banget kalo orang yang berada di sekitar saya jg jadi pembohong.
Lebih spesifiknya lagi, saya ndak mau mahasiswa saya jd pembohong. Saya ga mau mahasiswa saya jd orang yang suka titip absen. Saya lebih suka kalo mereka datang ke saya, minta ijin ga bisa masuk karena satu dan lain hal (yang syar'i tentunya). Bukankah semuanya bisa dikomunikasikan?

Intinya, jujur yang lebih utama. Titik. Ga pake koma. Jujurlah,, walo mungkin sedikit pahit. Walo mungkin akan ada beberapa pihak yang tersakiti. *tsahh.. bahasa saya.. :P

Tentunya, kan sangat aneh kalo kita teriak2 di jalan, teriak-teriak di fesbuk, twitter, ato socmed, apapun tentang save KPK, stop kriminalisasi KPK, hukum mati koruptor, dan sejenisnya,, tapi sedikit banyak kita telah menumbuhkan benih korupsi dalam bentuk ketidakjujuran td.

Apakah saya tidak pernah berbohong? Well, I'm working on it.
Sebisa mungkin saya menghindari berbohong. Takut jadi kebiasaan soalnya.

Iya benar, kita bukan malaikat yang hidupnya lurussss aja.
Iya benar, kita bukan makhluk sempurna.
Tapi, bukankah semua adalah pilihan?
Dan bukankah setiap pilihan kita nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak?
Tapi, kembali lagi, mempercayai akan adanya akhirat, surga, dan neraka juga tentunya adalah pilihan.. :)

Jadi, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan mulai dari sekarang untuk tidak berbohong.


*ditulis dengan sangat emosional penuh semangat sehabis kejadian perkara..  :P
*saking semangatnya sampe belum di-English kan.. hehe

2 comments:

  1. Weitts, *guyur aer biar kepala adem*
    Hehe, tapi kalo gak TA, takut jatah bolos bablas dan gak bisa ikut ujian, bu dosen... :Dv

    ReplyDelete
  2. skalian minta shampoo-nyaa, khumm.. hehe..
    iya se,, ijin aja lah at least. gak digigit ko, palingan dikasi tugas tambahan.. hahahahahhaha..
    >:)

    ReplyDelete